2.3 Nilai Informasi dalam Pengambilan Keputusan
Setiap organisasi terus membuat keputusan, mulai dari yang rutin seperti menyusun jadwal kerja minggu depan sampai yang berdampak besar seperti membuka cabang baru. Nilai informasi terlihat dari seberapa jauh informasi itu membantu pengambil keputusan memahami keadaan dan memilih tindakan yang tepat.
Memahami Kondisi dan Mengurangi Ketidakpastian
Keputusan jarang dibuat dalam keadaan yang sepenuhnya jelas. Informasi tidak menghilangkan ketidakpastian, tetapi menguranginya.
Seorang pemilik toko yang membaca laporan penjualan tiga bulan terakhir mendapati bahwa penjualan satu produk terus turun. Tanpa laporan itu, ia mungkin baru sadar ketika stok sudah menumpuk di gudang. Dengan informasi tersebut, ia bisa lebih awal mencari penyebabnya: apakah harganya terlalu tinggi, ada pesaing baru, atau produknya kurang terlihat oleh pembeli.
Hal yang sama berlaku ketika memperkirakan kebutuhan. Menentukan jumlah barang untuk bulan depan tanpa melihat penjualan bulan-bulan sebelumnya hanyalah tebakan. Dengan informasi penjualan sebelumnya, perkiraan itu memiliki dasar.
Membandingkan Pilihan
Banyak keputusan melibatkan lebih dari satu pilihan. Bagian pengadaan sebuah kampus yang hendak memilih penyedia layanan internet, misalnya, dapat membandingkan harga, kecepatan, riwayat gangguan, dan lama penanganan keluhan dari setiap penyedia. Tanpa informasi seperti itu, pilihan mudah didasarkan pada kesan atau rekomendasi lisan saja.
Kebutuhan Informasi pada Tingkat Keputusan yang Berbeda
Jenis informasi yang dibutuhkan berbeda menurut tingkat keputusannya.
Keputusan operasional berkaitan dengan kegiatan sehari-hari. Kasir perlu tahu harga barang dan stok yang tersedia, sementara bagian akademik perlu tahu jadwal kuliah dan ruangan yang kosong. Informasinya rinci dan dibutuhkan saat itu juga.
Keputusan taktis berkaitan dengan pengelolaan suatu bagian dalam jangka menengah. Manajer toko memakai laporan penjualan bulanan untuk menilai kinerja dan menyusun rencana promosi bulan berikutnya.
Keputusan strategis berkaitan dengan arah organisasi dalam jangka panjang. Pemilik toko yang melihat tren penjualan beberapa tahun, termasuk meningkatnya pesanan dari luar kota, dapat memutuskan untuk mulai berjualan secara daring atau membuka cabang baru. Informasi untuk keputusan seperti ini biasanya berupa ringkasan dan tren, bukan rincian transaksi.
Nilai sebuah informasi pun ikut bergantung pada siapa yang memakainya dan kapan. Rincian transaksi harian sangat penting bagi kasir, tetapi terlalu detail bagi pemilik yang sedang memikirkan rencana lima tahun ke depan.
Informasi Tidak Menggantikan Pertimbangan Manusia
Informasi memberi dasar, tetapi keputusan tetap dibuat oleh orang yang bertanggung jawab. Laporan yang menunjukkan kenaikan permintaan suatu produk bisa menjadi alasan untuk menambah stok. Namun, pemilik toko masih perlu menimbang hal lain: apakah modalnya cukup, apakah gudang masih muat, dan apakah kenaikan itu akan bertahan atau hanya sementara.
Pembagian perannya kira-kira begini: sistem informasi membantu menyediakan informasi yang dibutuhkan, sedangkan manusia menafsirkan informasi itu, menimbang pilihan, dan menentukan tindakan. Informasi yang bernilai tinggi adalah informasi yang membuat pertimbangan tersebut lebih jernih, bukan sekadar informasi yang jumlahnya banyak.