Akar Masalah: Istilah Terus Berganti, Jarak ke Dunia Kerja Belum Terurai
Coba tanya kakak, adik, dan dirimu sendiri: kurikulum apa yang dipakai waktu kalian sekolah? Jawabannya bisa berbeda-beda, dari KTSP, Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka, sampai istilah terbaru seperti "pembelajaran mendalam" dan "profil lulusan". Setiap kali istilah baru muncul, guru dan siswa kembali harus menyesuaikan diri. Di tengah semua perubahan itu, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas: apa sebenarnya dampaknya terhadap kesiapanmu masuk dunia kerja?
Kurikulum memang seharusnya menyesuaikan zaman, dan Indonesia sudah melewati banyak perubahan. Setelah Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifiknya, hadir Kurikulum Merdeka pada 2022 yang memberi fleksibilitas lebih besar bagi sekolah dan guru. Kurikulum ini kemudian resmi menjadi kurikulum nasional lewat Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.
Setahun kemudian, penyesuaian kembali dilakukan. Lewat Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, pemerintah memperkenalkan delapan dimensi profil lulusan, pendekatan pembelajaran mendalam, mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial, kokurikuler yang lebih fleksibel, serta pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib. Istilah yang sudah akrab pun ikut berganti: Profil Pelajar Pancasila kini menjadi Profil Lulusan, yang menurut pemerintah merupakan penguatan, bukan penghilangan nilai.
Menariknya, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan bahwa aturan ini bukan kurikulum baru, melainkan penyesuaian terhadap Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Jadi, secara resmi kurikulumnya tidak diganti. Yang berubah adalah istilah, pendekatan, dan penekanannya.
Arah perubahannya sendiri sebenarnya baik. Pendekatan pembelajaran mendalam mendorong murid tidak sekadar menghafal, tetapi memahami secara utuh dan mampu menerapkan konsep dalam konteks yang berbeda. Persoalannya, arah yang baik di atas kertas butuh waktu dan sumber daya untuk sampai ke ruang kelas. Contohnya mata pelajaran Koding dan AI: tidak semua sekolah akan menerapkannya, karena bergantung pada kesiapan sarana seperti akses internet dan perangkat teknologi.
Di sinilah akar masalahnya. Selama perhatian tersedot pada istilah dan dokumen, pertanyaan terpenting sering tertinggal: apakah yang dipelajari siswa sudah benar-benar relevan dengan dunia kerja yang akan mereka hadapi?
Perubahan yang terlalu sering bisa menimbulkan dampak berantai, bahkan ketika niatnya baik.
Pertama, arah belajar yang terus bergeser. Guru butuh waktu untuk memahami pendekatan baru, dan selama masa transisi, kualitas pembelajaran bisa belum optimal. Siswa yang kebetulan berada di masa peralihan sering merasakan kebingungan paling besar.
Kedua, energi terserap ke hal administratif. Setiap penyesuaian berarti dokumen, format, dan istilah baru. Waktu dan tenaga yang seharusnya dipakai untuk melatih keterampilan siswa bisa berkurang karena sekolah sibuk menyesuaikan diri.
Ketiga, dan ini yang paling terasa: jarak ke dunia kerja tetap lebar. Bayangkan seorang siswa yang melewati beberapa perubahan istilah selama sekolah. Ia lulus dengan nilai rapor yang baik, lalu melanjutkan kuliah yang juga didominasi teori. Saat akhirnya bekerja dan diminta mengerjakan tugas nyata, ia kebingungan. Masalahnya bukan pada nama kurikulum yang pernah ia jalani, melainkan pada minimnya kesempatan praktik langsung sepanjang perjalanan belajarnya.
Kamu memang tidak bisa mengendalikan kebijakan kurikulum nasional. Tapi saat memasuki pendidikan tinggi, kamu bisa memilih jalur yang arah belajarnya punya patokan yang jelas.
Ketiga dampak tadi punya benang merah yang sama: arah belajar yang terlalu bergantung pada perubahan kebijakan. Pendidikan vokasi menawarkan patokan tambahan yang lebih stabil, yaitu kebutuhan dunia kerja. Pemerintah sendiri sudah menetapkan prinsip link and match untuk pendidikan vokasi, dengan standar utama berupa kurikulum yang disusun bersama industri, pembelajaran berbasis proyek nyata, serta keterlibatan pengajar dari industri minimal 50 jam per semester di setiap program studi.
Pendekatan ini menjawab ketiga dampak tadi satu per satu.
Magang industri terstruktur menjawab arah belajar yang terus bergeser. Lewat magang, mahasiswa belajar langsung dari standar kerja yang sedang berlaku di industri. Perubahan teknologi dan cara kerja bisa langsung dirasakan, tanpa harus menunggu revisi dokumen kurikulum.
Porsi praktik sekitar 70% menjawab energi yang terserap ke administrasi. Ketika sebagian besar waktu belajar dihabiskan untuk mengerjakan, fokus pembelajaran kembali pada hal yang paling penting: keterampilan yang benar-benar bisa kamu lakukan.
Project-based learning menjawab jarak ke dunia kerja. Proyek yang berangkat dari masalah nyata industri melatih kamu memecahkan masalah, bekerja dalam tim, dan menghasilkan karya. Setiap proyek menjadi portofolio, yaitu bukti kesiapan kerja yang bisa kamu tunjukkan ke rekruter. Semangat ini juga sejalan dengan arah pembelajaran mendalam yang sedang didorong pemerintah.
Satu hal yang tetap perlu kamu cermati: tidak semua program vokasi sudah menerapkan prinsip ini. Laporan Kemdiktisaintek 2025 mencatat bahwa dari 2.695 program studi vokasi di Indonesia, baru 1.075 atau sekitar 39,8 persen yang sudah menerapkan kurikulum link and match dengan dunia usaha dan industri. Artinya, label "vokasi" saja tidak cukup. Pastikan program studi pilihanmu benar-benar menyusun kurikulumnya bersama mitra industri.
Jadi, apa dampak pergantian istilah kurikulum ke kesiapan kerjamu? Dampak terbesarnya bukan dari istilah itu sendiri, melainkan dari waktu adaptasi yang berulang dan kesempatan praktik yang sering tertinggal di baliknya. Kabar baiknya, kesiapan kerja tidak harus bergantung pada istilah apa yang sedang berlaku. Dengan memilih pendidikan tinggi yang berpatokan pada kebutuhan industri, kamu bisa membangun keterampilan nyata, apa pun nama kurikulumnya.
Sumber data:
Reply to Comment