Memilih Jurusan karena Gengsi, Menyesal Empat Tahun Kemudian
Memilih Jurusan karena Gengsi, Menyesal Empat Tahun Kemudian

Memilih Jurusan karena Gengsi, Menyesal Empat Tahun Kemudian

Mengapa Fenomena Kuliah Akuntansi Tapi Kerja di Sales Jadi Hal Biasa dan Bagaimana Solusinya.

Admin
Written by Admin
Published on 22 Sep 2026
Study Duration 5 Mins.
Category Articles

Ulasan mendalam mengenai fenomena salah jurusan, ketidaksesuaian bidang kerja (mismatch), serta tips memilih program studi berbasis kebutuhan industri.


Memilih Jurusan karena Gengsi, Menyesal Empat Tahun Kemudian


Di reuni SMA, ada satu kalimat yang hampir selalu muncul. Seseorang ditanya kerja di mana, ia menyebut posisinya, lalu buru-buru menambahkan: "jauh, sih, dari jurusan kuliah."


Biasanya kalimat itu disambut tawa. Semua orang mengangguk, ada satu dua yang bilang "sama", dan obrolan pindah ke topik lain.


Padahal di balik kalimat itu ada empat tahun hidup, biaya kuliah yang tidak sedikit, dan satu skripsi yang pernah membuat seseorang tidak tidur berhari-hari. Semuanya berakhir sebagai bahan basa-basi. Yang aneh bukan kejadiannya. Yang aneh adalah tidak ada lagi yang menganggapnya masalah.



Angka yang Salah Dikutip Selama Sembilan Tahun


Cari data soal salah jurusan di internet, satu angka akan langsung menyambut: 87 persen mahasiswa Indonesia salah jurusan.


Angka itu berasal dari penelitian Indonesia Career Center Network tahun 2017, biasanya dikutip berpasangan dengan temuan bahwa 71,7 persen pekerja berada di profesi yang tidak sesuai latar belakang pendidikannya. Sejak muncul di pemberitaan pada 2019, angka itu terus diulang sampai sekarang.


Sayangnya hampir tidak ada pemberitaan yang menjelaskan siapa respondennya, berapa jumlahnya, atau apa definisi "salah jurusan" yang dipakai. Sebuah angka dari 2017 dikutip pada 2026 seolah diukur bulan lalu.


Ada angka lain yang lebih bisa dipertanggungjawabkan. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sekitar 33,5 persen lulusan perguruan tinggi bekerja tidak sesuai bidang ilmunya. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebutnya pekerjaan rumah bersama, karena perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang kerap tidak nyambung dengan kebutuhan industri.


Sepertiga. Lebih kecil dari 87 persen, tapi tetap satu dari tiga orang yang Anda temui.


Ketidakcocokan itu juga tidak berhenti di soal bidang. Data Mandiri Institute mencatat tingkat vertical mismatch di Indonesia mencapai 50 persen pada 2025, setara 72,3 juta pekerja, yaitu ketika tingkat pendidikan seseorang tidak sesuai dengan yang sebenarnya dibutuhkan pekerjaannya.


Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai angka itu menandakan persoalannya tidak berhenti di dunia pendidikan. Menurutnya sistem pendidikan cukup berhasil menambah jumlah lulusan, tapi penciptaan pekerjaan produktif tidak tumbuh secepat itu.


Bagian ini jarang ditulis kampus mana pun dalam brosurnya, dan sebaiknya dikatakan sejak awal: sebagian masalah ini di luar kendali dunia pendidikan. Tapi sebagian lagi jelas ada di dalamnya.



Kenapa Penyesalannya Selalu Datang Terlambat


Mulai dari cara jurusan dipilih. Siswa kelas 12 memilih berdasarkan bagaimana nama jurusan itu terdengar, kata orang tua, pilihan teman satu geng, dan perkiraan gaji yang beredar di media sosial. Nyaris tidak ada yang pernah melihat satu hari kerja utuh seorang praktisi di bidang tersebut. Yang dipilih adalah labelnya, bukan pekerjaannya.


Lalu ada soal desain kurikulum, dan ini bukan tuduhan. Program sarjana konvensional memang dibangun di atas logika keilmuan. Mahasiswa diajak menguasai dasar teori, metode penelitian, dan cara berpikir sebuah disiplin. Itu tepat kalau tujuannya mencetak calon peneliti.


Persoalannya, sebagian besar mahasiswa tidak berniat jadi peneliti. Mereka ingin bekerja. Tiga setengah tahun habis untuk fondasi yang tidak akan pernah mereka sentuh lagi, lalu tersisa satu semester yang sedikit menyerempet praktik.


Yang paling merugikan adalah letak titik koreksinya. Dalam pola kuliah konvensional, perjumpaan serious pertama dengan dunia kerja baru terjadi di semester tujuh, lewat KKN, magang singkat, atau tugas akhir. Di titik itu mahasiswa sudah terlalu jauh untuk berbelok dan terlalu dekat untuk berhenti. Yang tersisa hanya menyelesaikannya, dengan urusan kerja ditunda ke "nanti".


Dan biaya dari "nanti" itu lebih besar daripada yang biasanya dihitung orang. Bukan cuma uang kuliah yang sudah telanjur keluar. Ada waktu tunggu setelah wisuda, ada tahun pertama yang habis untuk mencoba-coba pekerjaan yang ternyata tidak cocok, dan ada satu hal yang jarang disadari: ijazah ikut menua. Lulusan 2023 yang masih meraba arah di 2026 harus bersaing dengan lulusan yang baru keluar bulan lalu, untuk posisi pemula yang sama. Sementara BPS mencatat jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah setiap tahun, antreannya hanya akan makin panjang.



Yang Berubah Kalau Urutan Belajarnya Dibalik


Sekolah Vokasi biasanya dijelaskan dengan kalimat yang terlalu hemat: lebih banyak praktik, lebih siap kerja. Kalimatnya benar tapi tidak menerangkan apa-apa. Yang perlu diketahui calon mahasiswa adalah cara kerjanya.


Kurikulumnya disusun dari arah yang berlawanan. Program konvensional bertanya ilmu apa yang harus dikuasai lulusan bidang ini. Pendidikan terapan bertanya pekerjaan apa yang akan dilakukan lulusan pada hari pertama kerja, dan kemampuan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukannya. Mata kuliah disusun dari jawaban itu, dengan acuan standar kompetensi kerja dan masukan perusahaan mitra. Efek sampingnya, nama program studinya jadi lebih sempit dan lebih jujur.


Dari situ muncul perubahan yang paling menentukan: jendela koreksinya terbuka jauh lebih awal. Ketika praktik sudah mendominasi sejak tahun pertama, mahasiswa tahu lebih cepat apakah ia cocok dengan pekerjaan itu, dan masih punya ruang untuk menyesuaikan arah sebelum terlalu banyak yang telanjur dikeluarkan.


Magang industri juga berdiri sebagai bagian kurikulum, bukan kegiatan sampingan yang diurus sendiri oleh mahasiswa. Satu sampai dua semester penuh di perusahaan memberi dua hal sekaligus: rekam jejak kerja yang bisa diverifikasi perekrut, dan jawaban paling meyakinkan atas pertanyaan apakah saya cocok di bidang ini.


Efeknya terbaca di data penelusuran alumni. Politeknik Negeri Lampung mencatat masa tunggu kerja rata-rata lulusannya 1,93 bulan dalam tracer study untuk lulusan 2024. Di Politeknik Manufaktur Bandung, tracer study lulusan 2022 menemukan 15 persen lulusan sudah mendapat pekerjaan sebelum wisuda lewat presentasi industri.


Sebagai pembanding, riset LPEM FEB UI berbasis data Sakernas BPS mencatat durasi tunggu rata-rata pencari kerja di Indonesia mencapai 19,8 bulan, dipicu lonjakan pelamar, seleksi perusahaan yang makin ketat, dan adopsi AI di industri.


Dua angka politeknik tadi berasal dari satu kampus dan bukan rata-rata nasional pendidikan terapan. Tapi arahnya sejalan dengan logika yang sederhana: orang yang sudah pernah bekerja lebih cepat diterima bekerja.


Terakhir, ada sertifikasi kompetensi. Ijazah menerangkan apa yang dipelajari seseorang, sertifikat kompetensi menerangkan apa yang bisa ia kerjakan dengan standar yang sudah disepakati industri. Di tumpukan ratusan lamaran, selisih itu yang dibaca lebih dulu.



Tapi Labelnya Bukan Jaminan


Artikel ini akan tidak jujur kalau berhenti di sini.


Penelitian Setiyana dan Oktora di Jurnal Kependudukan Indonesia, memakai data Sakernas Agustus 2022 dengan 42.430 amatan, menemukan 72,71 persen pekerja lulusan SMK mengalami horizontal mismatch. Pendidikan kejuruan di jenjang menengah justru menghasilkan ketidaksesuaian yang jauh lebih tinggi ketimbang rata-rata lulusan perguruan tinggi.


BPS juga mencatat per Mei 2026 lulusan SMK menyumbang 22,39 persen dari 7,22 juta pengangguran nasional, porsi terbesar kedua setelah SMA.


Jadi label terapan atau kejuruan tidak menjamin apa pun. Yang menentukan adalah apakah programnya benar-benar tersambung ke industri yang nyata menyerap tenaga kerja di wilayah itu. Ada sekolah yang membuka jurusan tertentu karena industrinya memang ada di kota tersebut. Ada juga yang membukanya karena sekolah sebelah membuka. Di brosur, keduanya terlihat persis sama.



Empat Pertanyaan Sebelum Menandatangani Formulir


Kalau Anda calon mahasiswa atau orang tua yang sedang menimbang, empat hal ini lebih berguna daripada membaca peringkat akreditasi:



  1. Minta data tracer study program studinya, bukan data kampus secara keseluruhan. Tanyakan masa tunggu kerja rata-rata dan persentase lulusan yang bekerja sesuai bidang. Kampus yang serious punya angkanya. Kampus yang hanya menjawab dengan testimoni juga sedang memberi Anda jawaban.

  2. Minta nama perusahaan mitra magang untuk jurusan itu, lalu cek apakah perusahaannya bergerak di bidang yang Anda tuju. Klaim kerja sama dengan ratusan mitra industri tidak berarti banyak kalau mitra untuk jurusan Anda cuma satu.

  3. Minta izin melihat laboratorium atau bengkelnya, bukan gedung dan lobinya. Perhatikan apakah alatnya terpakai atau terpajang.

  4. Cari satu orang yang benar-benar bekerja di profesi yang Anda incar, tanyakan seperti apa harinya dari jam delapan sampai jam lima. Dua puluh menit percakapan itu bisa menyelamatkan empat tahun.


Salah jurusan bukan aib dan bukan akhir. Tapi memperbaikinya di bulan ketiga jauh lebih murah daripada di tahun kelima.






Sumber & Referensi:




  1. Kemnaker, 33,5 persen lulusan perguruan tinggi bekerja tidak sesuai bidang ilmu — "Menaker: Kolaborasi Kampus dan Industri Penting untuk Atasi Mismatch", IQPlus/BCA Sekuritas (6 Agustus 2026).

    https://bcasekuritas.co.id/latest-news/news/menaker-kolaborasi-kampus-dan-industri-penting-untuk-atasi-mismatch


  2. Mandiri Institute, vertical mismatch 50 persen atau 72,3 juta pekerja (2025), berikut analisis Indef — Kontan (Februari 2026).

    https://nasional.kontan.co.id/news/50-tenaga-kerja-tak-sesuai-kualifikasi-imbas-permasalahan-struktural-ekonomi


  3. Data ICCN 2017 (87 persen dan 71,7 persen) — Republika (7 Februari 2019) & Medcom (5 Februari 2020).

    https://republika.co.id/berita/pmjuhw368/87-persen-mahasiswa-mengaku-salah-pilih-jurusan |
    https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/GNl4DB2N-87-persen-mahasiswa-mengaku-salah-jurusan


  4. Masa tunggu kerja nasional 19,8 bulan, riset LPEM FEB UI berbasis Sakernas BPS — Selular.id (Juli 2026).

    https://selular.id/2026/07/gempuran-ai-memaksa-lulusan-baru-menanti-kerja-hingga-dua-tahun/


  5. Tracer study Politeknik Negeri Lampung, masa tunggu 1,93 bulan — Polinela (Mei 2026).

    https://polinela.ac.id/diseminasi-tracer-study-polinela-ungkap-tingginya-daya-saing-lulusan-di-dunia-kerja/


  6. Tracer study Politeknik Manufaktur Bandung, 15 persen bekerja sebelum wisuda — Jurnal Ilmiah MEA Vol 7 No 1 (2023).

    https://journal.stiemb.ac.id/index.php/mea/article/view/2850


  7. Horizontal mismatch lulusan SMK 72,71 persen — Setiyana & Oktora, Jurnal Kependudukan Indonesia (2024), data Sakernas Agustus 2022.

    https://ejournal.brin.go.id/jki/article/download/5513/10605/38472


  8. Komposisi pengangguran Mei 2026, porsi SMK 22,39 persen — detikFinance (5 Agustus 2026).

    https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8605483/bps-ungkap-1-juta-lulusan-s1-s3-di-ri-masih-nganggur


Comments

Reply to Comment
Comments Approval

Your comment will be visible after admin approval.

Memilih Jurusan karena Gengsi, Menyesal Empat Tahun Kemudian
You are studying
Memilih Jurusan karena Gengsi, Menyesal Empat Tahun Kemudian
Study Duration 5 Mins.